
Herman Sarens Sudiro
Kami sungguh sangat terkejut saat hari ini melihat analisa google bahwa keyword “Herman Sarens Soediro” paling banyak dicari, padahal kemarin saya lihat belum ada muncul, ini artinya keyword tersebut popularitasnya meningkat lebih dari 1400% diatas “antasari”.Sebenarnya siapa dia? dan kenapa paling banyak dicari beritanya? berikut ini kami coba himpun beberapa informasi tentang “Herman Sarens Sudiro” dari berbagai sumber online “top ten index google“,
———
Siapa Dia?
Letjen TNI (Purn) H. Herman Sarens Soediro adalah seorang purnawirawan tentara, diplomat, pengusaha, tokoh olahraga menembak dan berkuda, serta promotor tinju. Lahir di Pandeglang, Jawa Barat, 24 Mei 1930. Anak dari Serma R. Soediro Wirio Soehardjo, Kepala Perlengkapan Batalyon IV, Resimen XI, Divisi II Siliwangi yang gugur di tangan tentara Belanda pada 19 Desember 1947. Saat itu Serma Soediro adalah komandan Herman Sarens. Hermans Sarens Sudiro menikah dengan Tinawati pada 21 Agustus 1958.
Nama Herman Sarens Soediro menjadi sangat populer saat beliau memutuskan menjadi promotor tinju, menggantikan Boy Bolang yang mengalami kesulitan finansial saat menjelang pertandingan akbar Saoul Mamby vs Thomas Americo untuk memperebutkan gelar juara dunia kelas welter ringan versi WBC pada tahun 1981.
Menimba Ilmu dimana saja?
Karir Tentaranya Apa?
Pernah Ngapain aja?
Berikut Artikel Terbaik Mengenai Dia
"KEPAHLAWANAN" HERMAN SARENS MENGGILING 100 ORANG (PKI) DENGAN TANK
Oleh: Alam Tulus
Letjen (purn) Herman Sarens Sudiro, mantan Ass Kastaf KOTI, melalui
wawancaranya dengan wartawan AKSI (Vol 2, No 100, 13-19 Okt 1998) antara
lain mengatakan, "Seperti dulu, baru 7 orang PKI menculik dan mau mengubah
Pancasila, seratus orang saya giling dengan tank. Saya dilindungi
undang-undang untuk kelangsungan dari kedaulatan negara dan melindungi
rakyat. Kenapa mesti takut. Kalau saya nggak peduli." Entah dengan maksud
apa Herman mengungkapkan kekejamannya dalam menggiling 100 anggota PKI
dengan tank? Mungkin untuk menakut-nakuti rakyat agar jangan berani-berani
menentang dirinya, jika tidak ingin digiling pula dengan tank.
Hanya menjadi pertanyaan: Undang-undang mana yang bisa melindungi
Herman menggiling 100 orang dengan tank? Yang jelas, tak ada sebuah
undang-undang di Indonesia yang membolehkan membunuh orang dengan secara
kejam. Kecuali undang-undang yang diciptakan khusus oleh fasis Soeharto.
Apalagi yang membunuh 7 jenderal itu, bukan PKI, melainkan
Cakrabirawa. Itu sudah dibuktikan didepan pengadilan. Dan hal itu dipertegas
dengan pengakuan kolonel Latief bahwa pada 30 September 1965 ia diminta oleh
Brigjen Supardjo dan letkol Untung untuk menyampaikan pada jenderal
Soeharto, bahwa dini hari 1 Oktober 1965, 7 orang jenderal akan diambil dan
dihadapkan kepada Presiden Soekarno. Yang mengambil Cakrabirawa.
Satu hal perlu dicatat dari peristiwa ini. Yaitu Herman cukup jujur
mengakui bahwa ia telah menggiling 100 orang PKI dengan tank. Sayangnya
Herman tidak menjelaskan, sesudah 100 orang itu digiling dengan Tank,
dikuburkan di mana?
Di samping itu Herman Sarens Sudiro juga mengemukakan
keterkejutannya karena 10.000 orang tahanan PKI di Pulau Buru telah
dibebaskan. "Mereka sekarang kemana? Siapa yang melepas? Saya kaget. Saya
kan yang bikin Pulau Buru. Kok sekarang komunis yang di sana dilepas begitu
saja sama Pak Domo ( Sudomo ). Ini perintah siapa? Kita harus waspadai itu."
Dari pertanyaan Herman yang bertubi-tubi tentang tahanan di pulau
Buru tsb, terlihat dengan jelas keinginannya: semestinya mereka tidak
dibebaskan, tapi ditahan terus di Pulau Buru, sampai menjadi rabuk di sana.
Sebenarnya mustahil Herman tidak mengetahui bahwa yang membebaskan tahanan
pulau Buru itu adalah pemerintahan Soeharto sendiri. Bukan usaha Sudomo
secara diam-diam melepaskannya. Pemerintah Orde Baru terpaksa
membebaskannya, karena tekanan dari luar. Penahanan itu melanggar hak-hak
azasi manusia. Pemerintah Orde Baru tak berani menolak tekanan luar itu,
karena ekonomi Indonesia tergantung dari bantuan luar itu. Apalagi tidak
seorang pun yang ditahan di Pulau Buru sebanyak 10.000 itu yang tersangkut
dalam G30S. Bila mereka tersangkut atau terlibat, tentu mereka akan diadili.
Karena itu pula proses pembebasan mereka juga tanpa melalui proses hukum.
Mereka ditahan hanya dengan dalih "Terlibat Tidak Langsung". Satu istilah
yang tidak dikenal di zaman kolonialis Belanda yang mengadili kaum
pemberontak PKI pada 1926/1927. Ketika itu kolonialis Belanda hanya
mengadili yang terlibat. Dan yang tidak terlibat, meskipun anggota PKI tidak
diapa-apakan sama sekali. Apalagi keluarganya. Dalam hal kekejaman terhadap
komunis, jenderal Soeharto lebih kolonial dari kolonialis Belanda.
Menurut Herman, doktrin komunis tidak akan mati. Sewaktu-waktu akan
bangkit kembali. Sekarang saya tanya: kereta-api yang yang berangkatnya lima
jam sekali kok bisa tabrakan? PLN Cigandul kok tiba-tiba bisa mati? Siapa
yang melakukan? Ini kan menunjukkan komunis masih ada.
Dengan kata lain, Herman hendak mengatakan bahwa kereta-api itu
tabrakan karena ditabrakan oleh kaum komunis. PLN Cigandul tiba-tiba mati,
tentu dimatikan kaum komunis. Mengapa Herman tidak mengatakan pula bahwa
musim panas dan hujan kini yang tidak normal di Indonesia karena ulah
komunis. Amboi, Herman. Lidah memang tidak bertulang. Bisa ditekuk seenak
yang memiliki lidah itu.
Karena ketakutan dan kebenciannya pada komunis demikian besar,
sampai-sampai Soeharto jagoan anti komunis, pun ditempatkan Herman sebagai
komunis. Hal itu dilakukan Herman karena Soeharto tidak menghargai Herman
sebagai "pahlawan" anti komunis. Soeharto hanya menonjolkan dirinya saja
yang jadi pahlawan menghancurkan komunis.
Hal itu tergambar dari penilaian Herman bahwa "style Soeharto memang kayak
Hitler misalnya saja," kata Herman. "Ada bagian penerangan dan propaganda
untuk menunjukkan kehebatannya sendiri. Semua pahlawan yang ikut membantu
dia, termasuk Sarwo Eddie dan saya, nggak ada namanya. Semua di out dan dia
muncul sebagai pahlawan sendiri."
Saat dikejar oleh wartawan bahwa "ketika Soeharto berkuasa, terlihat
sangat-anti PKI". Dengan enaknya saja Herman menjawab: "Itu kan semacam
politik lempar batu sembunyi tangan." Dengan kata lain anti komunisnya
Soeharto itu hanya pura-pura, sesungguhnya dia komunis. Menurut logika
jawaban Herman ini, karena Soeharto itu komunis, maka dibantainya anggota
dan simpatisan PKI yang jutaan jumlahnya pada 1965/1966; karena Soeharto itu
komunis, maka dilarangnya kehadiran PKI dan penyebaran ajaran komunisme.
Hanya orang yang tidak bisa menggunakan akalnya, yang akan
membenarkan, mempercayai apa yang dikatakan Herman bahwa "Soeharto
anti-komunis, hanya lempar batu sembunyi tangan."
Tampaknya, menurut Herman Sarens Sudiro, dirinya lah yang paling menonjol
anti komunis, sehingga menggiling 100 anggota PKI dengan Tank. Soeharto itu
anti komunisnya hanya pura-pura. Semua dosa yang diperbuat Soeharto terhadap
rakyat selama 32 tahun berkuasa dengan politik anti komunisnya, hendak
dialihkan Herman menjadi dosa komunis. Tentu termasuk dosanya menggiling 100
anggota PKI dengan tank.
Herman Sarens Sudiro rupanya mengira Tuhan itu buta, tidak
mengetahui perbuatan Soeharto dan Herman Sudiro yang jahat itu. Dikiranya
Tuhan akan membenarkan saja kejahatan yang mereka lakukan. Tuhan aha
Mengetahui dan Maha Adil.***
Kenapa paling banyak dicari informasi tentang dia? Ada masalah apa dengan dia?
KOMPAS.com